Feeds:
Pos
Komentar

DIMENSI

 

 

-JAM’IAYTUL QOHWAH-

 

 

“Hanya engkau yang di takdirkan oleh Robb

 Tuhan Semesta Alam

 Pengatur Gugus Bintang

Pemilik Segala Kehendak atas semua Irodah, dimensi dan waktu

Yang mampu menjaga imanmu atas jalan yang diridloi-Nya

Yang mampu menunjukanmu isyaroh-isyarohNya padamu

Tentang ujung terang di tengah subuh

yang tertutup oleh kabut diantara pepohonan”

06.00 Dieng, 23 Romdlon 14XX

 

“Sudah berapa puluh kali saja kubaca lembar kertas terakhir catatan ini, sebuah catatan dari entah- siapa -pemiliknya. Buku catatan bersampul hitam yang terus kutenteng-tentang kemanapun semenjak satu januari lebih enam belas hari silam. Sampai akhirnya aku terjebak mengikuti insting gilaku hanya untuk membuktikan kebenaran buku kumal ini.  Dan sekarang adalah malam keenam aku bermalam ditenda ini,di hutan ini…ummm,api unggun diluar sepertinya hampir padam, oke selamat malam, Semoga Robb terus memelihara Jiwa lemah kita… amien ”

 

Buku itu kuletakan di alas bawah, lampu merah berkedip dua kali tanda handycame sedang merender setelah tombol power kutekan, tripod dan perekam kutata rapi untuk kumasukan kedalam ransel besar. Sudah enam baterai terpakai, kulihat tas ransel besar itu, tinggal dua baterai cadangan, harus kupergunakan sehemat mungkin. Dengan lunglai, ransel  besar kuseret kepojok tenda, kupungut buku yang tadi kuletakan dibawah lutut dan memindahkannya diatas ransel.

 

Aku merangkak untuk bisa keluar tenda, berdiri menatap sekeliling  pucuk-pucuk pohon yang entah apa namanya. Pohon-pohon besar itu seakan menatapku, menaungiku dengan hangat ramah gemerisik daunnya. Entah kenapa, malam ini hati mengajakku untuk tak merasa sepi, tak sesepi malam-malam kemarin, malam yang hanya kulewatkan dengan dingin angin pegunungan, suara kumbang, atau jangkrik atau kabut yang menutupi indahnya sungai bintang. Asli, Malam ini seakan semua menyapa dan menyambutku sebagai satu-satunya manusia ditengah belantara hutan untuk mereka agungkan sebagai tamu, bahkan api unggun yang kian mengecil, tetap memelukku dengan hangatnya. Dan lamat-lamat nyanyian air terjun seperti tasbih saat gelombang yang dikirim dari kejauhan menyentuh gendang telingaku.

 

Alhamdulillah malam ini sangat terang kulihat, cahaya purnama bercincin memaniskan langit tak berkabut, begitu terang sampai aku merasa mampu melihat dan menjajaki gugus bima sakti dan mengukur bayang-bayang pepohonan yang berdiri jangkung disekelilingku. Benar-benar nyaman menikmati malam seperti ini, tanpa deras angin yang membuat khawatir untuk mematikan api unggun, ataupun rasa was-was tak jelas yang sering membuatku takut untuk tidur. Meskipun tanpa kawan, ataupun keluarga , malam ini – disini – benar-benar terasa nyaman.

 

Bahkan, api unggun yang kian mengecil itu kubiarkan tetap menyala saat langkah ini kembali memasuki tenda, agar bisa kujadikan tontonan layar wayang tak berlakon dari dalam. Layar wayang yang hanya memainkan tarian api dan bebayang pohon-pohon. Aku menontonnya berbantal lengan kananku, sampai mata merasa berat mendengar nadi dari pergelangan tangan mendenyutkan kalimah Allah yang dikirim oleh jantung.

 

Tapi, didalam tenda, dinginnya hutan ternyata lebih terasa menjalar sampai kaki, padahal jaket, tudung kepala dan kaos kaki sudah terpasang, kujejalkan saja dua penopang tubuh itu kedalam ransel besar.  Aku melriknya,melirik buku bersampul  hitam diatas ransel. Empat puluh enam hari. Benar, empat puluh enam hari buku itu masih menempel padaku,dipijakan sebelah kaki kiri menyentuh jari kelingking.

 

***

 

 

“gimana Dris? Kamu pesen apa? SMS-an terus?”

“eh,hah?”

“kamu pesen apa taplak!!!”

“hahahahahaha,kopi hitam saja satu, gelas kecil Kon”

 

Pria kurus itu meinggalkan kami menuju etalase tempat Si Pemilik Warkop bertengger. Setelah ia terlihat menyampaikan beberapa hal dan menunjukan isyarat bahwa asal pesanan kopi-kopi itu berasal dari meja yang kami tempati, ia kembali bergabung dengan kami, duduk disebelah kiriku persis. Didepanku, meja kayu berukuran standar, tingginya tidak lebih dari satu meter sepuluh senti, dengan panjang satu meter dan lebar setengah meter.  Dan disebrang meja tersebut duduk dua teman kami yang lain.

 

Namaku Idris, Mohammad Idris Purnomo. Anggaplah ini sebuah jurnal pengalaman yang ingin kubagi dengan kalian yang menemukan catatan ini. Ingat!!!! Yang mene-mu-kan Jurnal ini. Kenapa hanya untuk yang menemukan? Yaiyalah, kalo ga nemu gimana bisa baca jurnal ini dodol!! Hohohohohoho…

 

Orang yang barusan memanggilku Taplak bernama Sidcon Mahfudzi, aku memanggilnya “icon” dengan pelafalan bahasa inggris “eikoe’n”, harus “eikoe’n”, karena Si Punya Nama menginginkannya seperti itu, “i-c-o-n” jangan sampai memanggilnya dengan merubah huruf “K” itu menjadi huruf “C”.  kata dia saat pertama kali saya mengenalnya diasrama mahasiswa Ibnu Kholdun Peterongan Gresik.

 

“Panggil saya Icon, ingat!!! Icon, huruf K tanpa C, agar terlihat lebih keren dan mbois

 

Ia salah satu personil Jami’atul Qohwah  juga, anaknya paling pengertian dan suka mengalah selama aku mengenalnya. Dan yang jelas,aku tidak tahu mimpi apa yang ia miliki, walaupun sepertinya, ia terobsesi dengan ‘KAUM EMO’, karena, mayoritas foto yang ia miliki selalu mengenakan Jumper dengan menelungkupkan tudung dikepalanya. Bias bayangin kan? Kemudian gaya lainnya adalah ‘SILUET ALA DEN_IDZI’. Dimana ia membuat dirinya terlihat menjadi sebuah bayangan gelap membelakangi cahaya.  Santai, jangan membayangkan foto itu menjadi portrait horror, garapannya keren-keren ko, sumpah!!

 

Jami’atul Qohwah adalah perkumpulan mahasiswa yang sama-sama doyan ngopi, dimana personil tetapnya adalah kami, empat orang angkatan 2008 Universitas Al Ayubi  Gresik penghuni asrama mahasiswa Ibnu Kholdun. Waktu kami ngopi terbagi menjadi tiga waktu, ba’da subuh agak siang, ba’da ashar agak siang dan ba’da Isya agak siang (lho????).

 

Sedang saat ini kami sedang berkumpul di jadwal kedua, ba’da Ashar. Nama Jam’iyatul Qohwah ini diciptakan oleh ketua kami, Syahrul Musyafa’ yang duduk dihadapanku persis.  Asli blitar, punya darah keturunan Cilacap asal kakek. Tapi dia murtad dari ke-Cilacapannya dan tidak mau disebut orang Cilacap meskipun bentuk ke-Murtadtannya tidak bisa menutupi logatnya yang sedikit ngapak itu. Ialah yang mendirikan Jam’iyatul Qohwah ini, katanya dulu;

 

“Komunitas kita ini harus diberi nama, namanya Jam’iyatul Qohwah..artinya Perkumpulan Pengopi atau Perkumpulan Tukang Ngopi”

 

Lucunya, saat dulu mencetuskan nama itu Safa sempat dipertanyakan oleh personil terakhir kami tentang arti nama Jam’iyatul Qohwah

 

“ Jam’iyatul Qohwah artinya Perkumpulan Kopi???? Apa ga salah arti tuh pek? Qohwah itu kan bukan  Fa’il didalam bahasa arab, bukan jadi ‘Subject’ atau ‘Pelaku’ ,ko ente ngartiinnya bisa jadi Fa’il gitu??”

 

Terlibatlah dua manusia itu pada perdebatan ilmu nahwu sorof, meskipun pada akhirnya temanku yang jadi personil terakhir itu hanya tersenyum dan manggut-manggut ketika Safa berkata ;

 

“statement terakhir!!! Mending nama ‘Jam’iyatul Qohwah’, daripada ‘Geng Kopi’, atau ‘Komunitas Kopi ’ yang terkesan rame padahal personilnya kan cuma empat orang, apalagi kalo make kata ‘Geng’ yang kesannya negative kaya di tipi-tipi”

 

Nama itupun disepakati meskipun saat itu aku melongo dan berbisik ke Icon

 

“kalo di TiVi,bukannya yang kesannya negative Cuma ‘geng motor kon?”

 

Icon Cuma menutup mulut dengan jari telunjuk tanda aku harus diam. Sedangkan Si Penggugat nama “Jam’iyatul Qohwah” terkesan cuek sambil menikmati gelas kopinya pada saat itu. Si Penggugat itu bernama Fatkhul Bary, anggota terakhir Jam’iyatul Qohwah ini, asli Tegal, tapi tidak terlihat ngapaknya karena saking seringnya pindah sekolah dari ujung barat pulu jawa sampai ke titik sekarang, ia mampu menirukan semua dialek daerah manapun, bahkan bahasa sundapun faham. Tapi, ada satu keunikan gendeng dalam dirinya, dari hal tersebut kami menggelari Ia sebagai “Dewa Tidur” setelah rekor temanku yang bernama Icon dikalahkannya. Prestasi icon dalam tidur panjangnya hanya mencapai delapan belas jam, sedangkan Si Tegal satu itu pernah seperti orang mati dikamar kami, ia bisa tidur dari jam enam pagi dan bangun jam enam pagi lagi, dua puluh empat jam meeeeeeennnnnnn!!!!  Jangan bayangin dah rasanya kayak apa, Tanya aja ama yang punya nama. Dan segeralah berhenti berfikir ketika dua makhluk itu mulai mengadakan kompetisi aneh mereka, mereka menyebut persaingan tidak sehat itu (yaiyalah tidak sehat, lha tidur ko mpe seharian)  “Merem Competition”.Sumpah!!! jangan berfikir dan bayangin kaya apa kompetisi itu, ga bisa dinalar make otak,walaupun kadang aku juga berfikir kalo mereka itu manusia atau beruang????

 

“dua kopi hitam dan dua kopi moka”

 

Mbak Eni Si Pemilik warung menyodorkan empat cangkir kopi itu diatas meja. Aku mengucapkan terima kasih kepadanya, sedang ketiga temanku mengangguk takdziym kepada perempuan paruh baya itu sambil menyeruput kopi mereka pelan-pelan.

 

Kami menghabiskan waktu dengan obrolan tanpa tema, dari mulai Film, Lagu, cewek, HP, aplikasi-aplikasi computer terbaru sampai hal-hal serius yang mengerutkan kening tentang hukum-hukum fikih, nahwu-sorof, bisnis, isu nasional, dan organisasi. disamping kelebihan dan keunikan dari diri masing-masing kami, celoteh-celoteh dan joke-joke sederhana selalu menjadi warna tersendiri dari komunitas kopi satu ini. Entah banyolan-banyolan yang keluar dari sifat nyleneh-ku, ataupun ledekan-ledekan gokil dari Safa maupun Icon yang di matangkan lagi oleh Bary. Dan terus berping-pong ria menanggapi segala obrolan.

 

“Wah, ga terasa hampir empat tahun disini, dah ketemu OSPEK lagi minggu depan, masih inget aja gimana kita waktu OSPEK dulu ”

“bener Con,kita menjadi peserta parah yang  izin tidak mengikuti OSPEK untuk alasan ga darurat blas, hahahaha”

“ya mau gimana lagi bar, senior-senior asrama yang ngajak ko, ya ikut aja, hehehehe”

“bener dris, izin cuma buat maen  bola dilapangan, untung tidak ada panitia yang kenal kita,dan Lo bar..awas bikin masalah kaya dulu lagi”

 

Timpal Safa yang membuat kami tertawa ketika mengingat masa-masa itu. Satu pengalaman keren ketika mengikuti OSPEK dulu hingga kami semua terkena masalah gara-gara Si Tegal, tapi selain pengalangaman-pengalaman kami, aku memiliki kesan tersendiri dari OSPEK yang kami lewati, pengalaman yang mengingatkanku pada satu panitia putra yang kusegani.  Aku menjulukinya sebagai Sang Jendral.

***

“udah sholat semua? Bar, Fa,Kon?”

 

Mereka bertiga serentak menjawab

 

“Daaaaahhhh”

“Suip, ayok jalan, sebentar lagi materi ke-Tiga dimulai”

“Dris.. ente, safa ma icon duluan aja, saya nyusul nanti”

 

Kami bertiga menatap Si Tegal satu itu

 

“Santai, aman-aman”

 

Dan kami bertigapun meninggalkannya dimsuhola kampus. Hari ini adalah hari pertama kami mengikuti OSPEK atau hari pengenalan mahasiswa baru. Sedikit berbeda dengan Masa Orientasi Siswa waktu SMA, didunia kampus kami dituntut mengikuti acara seperti rangkaian seminar, sedang kesamaannya adalah kami masih tetap menjadi anak bawang yang diikat oleh aturan kostum, dan atribut aneh, plus kode etik dimanapun kami berada, jika kami bertemu dengan mahasiswa tingkat atas wajib bagi kami menyapapara  senior dengan memasang muka Hepi sambil mengucap “Kaaaaaaaaaaakkkk”

 

Memang tidak seperti dikampus-kampus lain, kampus kami sedikit halus tentang perploncoannya,  kami tidak harus mengenakan kalung bawang-cabe, atau topi bola plastic yang dibelah jadi dua. Bagi peserta putra  cukup setelan hitam-putih, dasi hitam, peci,  co-card persegi panjang ukuran 60cm X 20cm yang dibuat dari kertas karton dan dilapisi kertas HVS bolak – balik. Setiap pelanggaran yang dilakukan peserta baru akan ditulis dibalik cocard yang mengalungi leher kami. Dibalik Co-cardku, safa dan icon sudah tertulis dua point pelanggaran karena terlambat, yang aneh, Co-card si Tegal selalu bersih kulihat, padahal ia sama-sama terlambat dengan kami, tapi entah ketika sudah mendekati area kampus, ia memisahkan diri dan ujug-ujug sudah duduk diantara teman-teman kelompoknya ketika aku, safa dan icon memasuki ruangan. Mungkin dia punya jalur rahasia yang tidak diberitahukan ke kami.

 

“semua peserta diharapkan menyiapkan alat-alat tulisnya karena materi ketiga akan segera dimulai”

 

Ucap seorang panitia putri diatas panggung, cantik, dengan tingginya yang semampai terbalut kerudung merah muda yang menutupi wajah putih bersihnya,Dewi, nama kakak seksi acara itu Dewi. Aku dan Icon duduk bersebelahan di kursi paling belakang, kulihat mulut Icon membentuk huruf “O” setiap kali melihat Kak Dewi naik panggung, sedang safa dikelompok sebelah kananku persis sedang berculcol ria dengan peserta cewe didepannya. Semua peserta memang dikelompokkan menjadi beberapa kelompok, dan panitia telah menyiapkan deretan kursi tempat kami duduk sesuai dengan jumlah kelompoknya, rapi .

 

Panitia putri tersebut melihat ratusan mahasiswa baru dihadapannya kasak-kusuk menyiapkan alat tulis, setelah ekspresinya  menimbulkan pancaran keyakinan bahwa semua peserta telah menuruti perkataannya,kulihat ia bergabung di depan pintu masuk berkaca bersama kakak-kakak panitia yang lain.

 

Aku memerhatikan sekelilingku mencari si Tegal yang tak kunjung datang, kursi disebelah Safa masih kosong

 

“Bary mana con?”

“ga tau”

 

Kucondongkan badanku kekanan

 

“fa,Bary mana?”

“ta-u, paling bentar lagi dia nongol”

 

Tiba-tiba Icon menepuk pundakku dan memintaku melihat kearah panggung. Seorang pria berjas almamater berdiri diatas podium.

 

“WHATTTTTT???? IT….ITT…ITTUUUU”

“Bary..kini, apalagi yang akan dilakukan satu anak itu?”

 

Safa menyenderkan punggungnya pada kursi dan melipat tangan, sedang Icon masih mengucek-ucek matanya melihat tak percaya.

 

“Semua peserta di harap berdiri, saya akan mengajak kalian semua menyerukan sumpah yang telah dibudayakan turun-menurun oleh kaum intelektual.. MA-HA-SIS-WA.. Sumpah ini sacral, dan setiap kalian harus mampu menghafalnya, baik, kepalkan tangan kiri dan acungkan, ikuti apa yang saya serukan”

 

Dan seluruh pesertapun berdiri mengikuti apa yang disampaikan Si tegal, menyerukan sumpah tentang perjauangan dan belakangan itu aku baru tahu bahwa sumpah itu adalah Sumpah Mahasiswa. Tapi, yang mengganjal difikiranku, bagaimana Si Monyet satu itu bisa mendapatkan jas almamater kampus? Ah bisa gila kalau aku memikirkan keanehan-keanehan yang dilakukannya dengann gayaknya yang Sok Yes dan Terlalu Santai.

 

Si Tegalpun selesai menghipnotis seluruh peserta dan meninggalkan ruangan. Sie. Acara masuk dengan seorang pria berstelan kemeja merah tua yang tampaknya Ia akan menjadi pemateri ketiga, air muka para panitia didepan terlihat bingung karena melihat semua peserta berdiri,merekapun meminta semua duduk. Dan materi ketiga dimulai.

 

“gendeng…bener-bener gendeng”

 

Safa menggeleng-gelengkan kepalanya

 

“keren…keren banget asli”

 

Aku melotot melihat ekspresi  Icon

 

“Kenapa dris? Ga da satupun mahasiswa yang berani kaya dia kan?”

“bener sih, tapi kita bakal kena masalah”

 

Aku dan kedua temanku pun terlibat dalam bisik-bisik ala maling jemuran. Saat kami terlalu asik menduga-duga apa yang sebenarnya direncanakan Si  Tegal, sekali lagi,ujug-ujug kami dikagetkan suara kecil yang berasal dari kelompok sebelah kiriku

 

“kalian lagi bisik-bisik apaan? Kayak ibu-ibu arisan aja”

 

Kami bertiga memicingkan mata ke arah Si Tegal yang menjadi penyusup kelompok sebelah.

 

“ente ngapain tadi bar”

“biasa con, cinta itu butuh kepastian”

“maksudnya?”

“gini lho dris..jadi”

 

Kami bertiga menatapa si tegal dengan khusyuk karena suara obrolan kami memang seminimal mungkin tidak menimbulkan kecurigaan panitia.

 

“ga jadi deh”

“ahhh…kampret”

 

Kami tesentak karena safa mengeluarkan suara yang cukup keras mendengar jawaban si Tegal, kuperhatiakn beberapa peserta melihat ke belakang. Dan aku mengeluarkan isyarat agar obrolan ini di pending dahulu sampai situasi semua aman. Tapi, tanpa kusadari tersnyata materi ketiga telah selesai, Kak Dewi mengumumkan beberapa pengumuman diatas panggung, sampai muncul si kurus sipit  anggota KomDis (komisi disiplin) yang membuat atmosfer ruangan menjadi sedikit hening walaupun masih ada suara gemerisik dariarah peserta. Komisi itu adalah salah satu element panitia yang bertugas sebagai eksekutor atau penjagal bagi peserta yang tidak mematuhi aturan-aturan kepanitiaan, sebut saja mereka “Para Samurai” . Samurai Sipit itu mendekati Kak Dewi membisikan sesuatu dan Kak Dewi menyimak dengan seksama sampai akhirnya ia mengangguk. Samurai itu mundur tiga langkah kebelakang diatas panggung.

 

“baik,cukup sekian pengumuman dari kakak, yang penting semua peserta harus tetap semangat, siap?”

“Siaaaaaapppppppppp”

 

Gemuruh suara peserta memenuhi ruangan menjawab pertanyaan itu, Kak Dewi pun mempersilahkan  Samurai Sipit di belakangnya dan meninggalkan ruangan

 

“Kepada komisi disiplin harap memasuki ruangan”

 

Munculah dua pria dan tiga wanita berjas almamater dari arah pintu masuk, tanpa senyum.ingat, tanpa senyum. Enam Samurai itu berdiri berjajar diatas panggung, semua mata peserta tertuju kedepan melihat mereka berdiri kecuali para peserta cewek yang maih menimbulkan berisik nguing tawon disana-sini.

 

“Kepada ketua Komdis, harap memasuki forum”

 

Atmosfer ruangan ini yang tadi terasa sedikit hening berubah menjadi mencekam, tidak ada suarapun muncul dari peserta, semua seperti hilang  tertahan dibatas tenggorokan dan mata kaki,senyap. Aku sampai mendengar nafas Icon menjadi berat dan terkesan dipaksa menjadi teratur dalam hirupan dan hembusannya, sampai suara jarum jam tanganku dan dinamo kipas angina mampu terdengar oelh telingaku . Seluruh ruangan ini menjadi  sangat diam.

 

Pria bertubuh sedang, tidak terlalu tinggi dan tidak pendek itu masuk dengan stelan kemeja hitam, ditambah peci hitam yang membuat kulit wajah sawo matangnya terlihat sangat terang, tanpa jas almamater, hanya warna pita cocardnya saja yang tidak berwarna hitam,pita  biru tua yang melingar lehernya dan berujung pada cocard panitia yang ia simpan di saku kiri kemeja hitamnya. Berdiri tegap menatap semua peserta dan menoleh kesisi kanannya, Samurai cantik mendekati sang jendral, mereka berbisik.hati-hati!!! Ialah Sang Jendral, terror dari segala terror.

 

Aku masih mengingat betul kengerian Sang Jendral saat bertarung dengan salah satu peserta saat pra-OSPEK silam. Tiga hari yang lalu saat kami diberi info untuk berkumpul digedung olah raga universitas, kami mendapati diri kami menjadi barisan pion yang siap dipancung dan disuguhkan kemacan ketika kami tidak mematuhi aturan panitia. Saat itulah, aku melihat bagaimana Sang Jendral.

 

Tepat saat Kak Dewi menyerahkan prosesi Pra- OSPEK selanjutnya kebagian KomDis meninggalkan panggung menuju deretan tempat duduk dimana semua panitia duduk rapi disana. Enam samurai itu naik memasuki panggung kecil di hadapan kami, merapikan barisan kami para peserta, dan membagi kami kedalam 23 kelompok. Suasana gedung olahraga menjadi berisik karena langkah kaki dan suara-suara yang ditimbulkan peserta. Lima samurai menyebar mengkondisikan barisan, dan sialnya saat itu aku diseret oleh salah satu samurai berbadan gemuk untuk berdiri paling depan pada kelompokku, tidak lebih dari sepuluh menit semua peserta sudah menempati kelompoknya masing-masing. Para samurai kembali ketahtanya didepan,berbaris rapi, dan Samurai SIpit mengumumkan lewat microphone didepannya bahwa pembacaan aturan-aturan akan segera dibacakan. Samurai Sipit Tinggi itu meminta semua peserta diam, tapi kasak-kusuk dan nguing tawon masih saja terdengar, Samurai Sipit itu meminta sekali lagi, dan kondisi peserta tetap sama.

 

Saat itulah, Sang Jendral yang sedari tadi duduk berkumpul dengan panitia yang lain berdiri, ia melangkah cepat dalam stelan putih-putih lengkap dengan peci hitamnya. Memainkan bolpoint besi dengan jemari kedua tangannya. Enam samurai mundur dua langkah kebelakang memberi ruang kepada sang Jendral, dan sang jendral diam mematung didepan microphone, masih memegang bolpoint besinya, menunduk beberapa saat.

 

Sang Jendral memasukan bolpoint besi itu kedalam saku kemeja putih dibalik jas almamternya, berdiri tegap melihat semua peserta didepannya yang masih berisik.

 

“dalam hitungan ketiga”

 

Entah kenapa, seperti ada kekuatan didalam suara bassnya yang membuat semua peserta mengalihkan perhatianna ke dia, menatap fokus

 

“hanya suara saya yang terdengar diruangan ini….SATU”

 

Sebagian peserta disihir dan hening

 

“DUA”

 

Tinggal seperempat peserta yang masih terdengar suaranya

 

“TIGA”

Dan forum itupun senyap. Mata Sang Jendral bak Elang yang siap memangsa korbannya memandang seluruh barisan peserta. Auranya membuatku sesak karena berdiri paling depan. Sang Jendral tidak mengeluarkan sepatah katapun, ia melirik kebelakang sebelah kiri tempat para samurai putra berdiri dan Samuria Sipit maju mendekatinya, mereka berbisik-bisik. Tiba-tiba

 

“APA-APAAN INI? KENAPA SAMPAI PERGURUAN TINGGI MASIH ADA MODEL GINIAN, SMP ADA MOS, SMA ADA MOS, SEMUA SELALU MENJADI TAMENG PARA SENIOR UNTUK MELAKUKAN PERPLONCOAN, KITA DIDEPAN INI SUDAH GEDE, SUDAH MAHASISWA, GA PERLU DIATUR-ATUR LAGI!!!”

 

Spontan aku menoleh mencari sumber suara itu karena sangat terdengar keras di telingaku,suara itu milik seorang pria berkulit hitam mengenakan kaos lengan pendek berkerah di belakangku, tapi bukan pada kelompokku, ia adalah kelompok tetangga. Saat itu batinku berkata;

 

“aih, kasihan sekali anak itu, kau sepertinya tidak melakukan observasi tentang apa itu OSPEK, hanya ada dua aturan dalam OSPEK : 1. Senior selalu benar  2.Jika senior salah, kembalilah ke auran pertama”

 

Aku bertanya-tanya apa yang akan terjadi pada Si Bilal yang berani memprotes panitia, apakah ia akan dipukuli seperti kasus tindak kekerasan atau apa?

 

“KENAPA KALIAN CUMA DIAM?  WOYY…SEMUA PESERTA YANG BERADA DISINI, BUKANKAH KITA SEMUA MEMILIKI HAK YANG SAMA, KALAU KITA MENURUT ITU NAMANYA KITA MAU DIINJAK-INJAK, EMANG INI JAMAN APAAN? PENJAJAHAN UDAH GA BERLAKU”

 

Ekspresi para Samurai geram meilhat kelakuan Bilal, sedang Sang Jendral masih terlihat tenang. Ia Cuma menatap Bilal dan menunjukan senyum kecilnya, walaupun saat itu aku lebih setuju menamai senyum separuh itu sebagai Seringai Macan. Sang Jendral melirik kearah belakang sebelah kanan dan Samurai Cantik dibelakangnya maju mendekati Sang Jendral, mereka berbisik dan Si Samurai Cantik mengangguk tanda faham.

 

Samurai cantik itu memberikan isyarat kepada dua samuarai putri yang lain, mereka turun tahta dan mendekati Si Bilal, tersenyum dan terlihat sedang berdiplomasi dengan Bilal. Wajah Bilal terlihat cerah dan bersemangat, Samuarai Cantik itu memeberi isyarat kepada Bilal dengan tangan kanannya dan membungkukan badan. Bilal maju dengan tegap,ia naik ke tahta para Samurai, sesekali wajahnya menatap kami para peserta mencoba berbicara lewat ekspresi wajahnya.

 

“Tenang kawan..hak kalian akan kuperjuangakan”

 

Tiga samurai putri itu masuk kedalam barisannya, si bilal dipersilahkan untuk berdiri disebelah Sang Jendral. hening

 

“Hari ini kalian akan melihat bukti dari pengalaman dan menjadi pelaku sejarah dari kekuatan mental yang telah ditempa puluhan kali oleh takdir”

 

Setelah mengatakan itu Sang Jendral berjalan mendekati Bilal, ia memunggungi para peserta, memasang sikap istiraht ditempat ala militer. Kening Bilal mengkerut tanda bingung dan was-was. Entah apa yang terjadi, semua samurai di belakang Sang Jendral menunduk takut.

 

Sang jendral terlihat membisikan sesuatu kepada Bilal-bilal terlihat mau menjawab-Sang jendral mengatakan seuatu-si bilal bungkam-sang jendral memainkan jemrainya-tangan si bilal terkepal keras-Sang Jendral bergeser menyampingi bilal dan tetap membisikan sesuatu-muka bilal terlihat pucat, keringatnya bercucuran-mata sang jendral terlihat membelalak ke bilal dalam bisiknya-bibir bilal bergetar melirik Sang jendral –Sang Jendral diam-tubuh bilal bergetar-sang jendral mebisiskan satu kata  dan….. bruk.

 

Bilal jatuh tersungkur dihadapan kami semua, kami hanya bisa terkesima dalam takut melihat kejadian tersebut, hampir semua peserta barisan depan cuma melongo melihat bilal jatuh-pingsan, tanpa kekerasan, hanya dengan bisikan. Kepalanya menempel pada fontovel kiri Sang jendral, para samurai hanya diam menatap bilal mematung tak berani menolong. Dengan kekejaman terornya, Sang Jendral tetap bengis menatap Bilal dan menyingkirkan kaki kirinya dengan kasar sehingga kepala bilal sukses mencium karpet panggung.

 

“Seksi kesehatan, segera tangani. Kak lanjutkan pembacaan tata tertib dan kode etiknya”

 

Sang Jendral turun dari tahta menuju tempat duduk para panitia berkumpul, seorang panitia putri memberikan sapu tangan kepada Sang jendral untuk mengelap  keringat pada kening Sang Jendral. Dua pria berjas almamater berlari menuju panggung  membawa tandu dan mengangkat jasad Bilal keluar dari ruangan sesak ini. dan Sang Jendral tetap terlihat tenang pada tempat duduknya, memainkan bolpoint besi dengan kedua jemarinya.

 

Sejak saat itulah aku selalu memilih duduk paling belakang dengan icon, trauma meeennnnn. Bahkan sampai saat ini, melihat Sang Jendral  berdiri diatas panggung, meskipun aku duduk dibarisan paling belakang tetap saja merasa tercekik dengan aura yang ia pancarkan. Ia masih berbisik dengan Si Samurai Cantik kemudian meninggalkan ruangan.

 

“baik, kepada seluruh adik-adik peserta, sebelum materi ketiga dimulai, adik-adik sudah menyerukan sumpah mahasiswa yang dipandu oleh kakak panitia bukan?”

 

“Sudaaaaaaaaahhhhhhhhh”

 

Kami bertiga langsung terhenyak dan mencium sesuatu yang tidak beres, Icon menatapku, aku menatap safa dan kami bertiga menatap kelompok sebelah memastikan

 

“Kamprettttt….Si Tegal ilang kemana??”

 

Kami bertiga hanya meratapi nasib melihat kursi kosong dibagian belakang kelompok sebelah kiriku

 

“Santai con,kalau ada apa-apa dengan kita,kita serahkan tersangkanya kepanitia”

“tapi fa…KomDis pasti akan sangat merepotkan”

 

Aku beranjak dari tempat dudukku menuju tempat duduk kosong Si Tegal

 

“Sampai ketemu diasrama  ^_^ ”

 

 

***

 

“wahahahahahahaha”

 

Si Tegal masih terpingkal-pingkal mendengar Safa berkata seperti itu

 

“Sory sory brow…namanya juga perjuangan cinta”

matamu ndesh.. kita sempet diinterogasi ma Si Komdis Sipit,tertahan tiga jam di ruang eksekusi”

“Iya bar, bener Safa,,,untung Idris bilang kalo ditanya nanti kita pura-pura ga kenal ente”

 

Akupun terpingkal-pingkal melihat ketiga temanku saling lempar krupuk yang sedang Icon makan.

 

“dah mau maghrib ayok cabut, kalian bayar lain waktu”

 

Safa mengeluarkan lembar biru lima puluh ribuan dari dompetnya

 

“ciyeeee…yang abis kiriman”

“berisik!!! Ga usah banyak koment con, ayok cabut”

 

Bary menyambar uang tersebut dan berjalan menuju Mba Eni,kami bertiga berdiri, mengambil semua barang-barang kami diatas meja.  Safa sudah keluar dari bangku dan meja sempit dihadapanku, dan disusul Icon yang disebelahku, saat aku mau keluar hari kelingking kaki kiriku merasakan sesuatu yang dingin menyentuhnya. Aku duduk kembali dan memeriksa kolong bangku

 

“buku??”

 

Kulihat sebuah buku tebal bersampul hitam, kertasnya yang kelihatan usang dari samping buku tersebut. Aku memungutnya.

 

“apaan dris? Qur’an yah? Wah ko bias sampai dibawah bangku…ck ck ck”

“Buku con”

“owh”

“Mba En, ini bukunya siapa?”

 

Mba Eni Cuma menggeleng, kutanyakan juga pada semua pengunjung disitu, hasilnya nihil.

 

“Mba, kalo ada yang nyari buku ini pean bilang ke saya yah”

“rebes”

 

Kubersihakan buku bersampul hitam itu dari debu, kubuka sampul kirinya, hanya ada lembar putih kosong tak bergaris, kubalik lembar berikutnya, masih lembar putih tak bergaris, hanya saja ada sebuah kata “AKU” diagian pojok kiri bawah. Kubuka lagi lembar berikutnya

 

“Drissssss…Ayok cabut”

 

Bary memanggilku, dan tanpa sadar ternyata mereka bertiga sudah berjalan cukup jauh dari titik dimana aku duduk.

 

“iyaaa”

 

Aku berjalan menghampiri mereka dan masih memerhatikan sebuah kalimat yang berada di tengah lembar putih tak bergaris yang kubuka.

 

 

 

 

“Aku ingin mengajakmu belajar”

 

 

 

 

****

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-SIMPUL-

 

“Assalamu’alaikum”

“ente kenapa dris? Lemes banget”

“yang lain mana bar?”

“ga tau,Icon masih di kampus paling, kalo Safa?ummm… pacaran paling,hahahaha?”

“owh”

“lho lho lho? Ente kenapa dris, galau masalah cewek?”

“bukan”

 

Bary yang kulihat sedang bersantai, menyandarkan punggungnya ditembok kamar sambil menghisap rokok cuma menatapku penuh tanya. Aku menatapnya balik-ia tambah memicingkan matanya-mata kubelalakan padanya-ia mengedipkan sebelah matanya dengan genit-hoek (adegan ini terlalu lebay, lupakan sajah)

 

Ia masih menatapku penuh tanya, tapi badan ini lebih tergiur untuk berbaring dikasur lipat sebelah kirinya. Ransel kuletakan,tubuh kubaringkan, kutatap kusam langit-langit kamar berhiaskan cahaya dari ventilasi mengurai asap yang keluar dari jarum super  Si tegal.

 

“ente udah solat dris?”

“udah”

“ente kenapa?”

“ga papa, cuma sedikit bimbang aja”

“gara-gara?”

“Ketua HIMA (Himpunan Mahasiswa) yang sekarang baru saja kumarahi saat rapat tadi?”
“terus?”

 

Aku duduk menatap muka bary yang masih menghisap jarum supernya  dengan wajah linglungku.

 

“heh??? Kata ente ‘terus’?!!!!”

“iya, terus gimana?”

“terusannya ya aku bimbang, tindakanku ini terlalu keras ga ke penerus tongkat estafet kepemimpinan di Hima?”

“owhhhh”

“owh gundhulmu”

 

Aku melemparnya dengan bantal, ia cuma menangkap bantal lemparanku  tanpa melihat dengan tangan kanannya dan melempar balik padaku, tepat mengenai wajahku

 

“I see…”

 

Katanya sambil mengepulkan asap rokok mencoba membuat huruf “O” dengan moncong mulutnya tapi malah jadi berantakan kayak asap kereta dan dia membuyarkan asap gagal itu dengan meniupnya. Aku menunggu kalimat selanjutnya

 

Masih menunggu

 

Masih menunggu

 

Masih menunggu bercampur dongkol

 

“ente ga punya lanjutan kalimatnya bar?nunggu nih”

“ente nunggu yah dris?”

 

Krik, krik, krik,krik

 

Aku membanting tubuh kekasur sebelum kesabaranku habis, menatap langit-langit kamar yang  masih kusam tak berubah warna.

 

“Hikmah… hikmah atau pelajaran bijak hanya bisa ditemukan oleh pelaku yang menjalani jalan hidupnya, ente pasti lebih paham dengan situasi yang ente hadapi dris. Jika ente ngrasa salah karena melakukan tindak pidana pembunuhan karakter penerus ente, ya minta maaflah. karena kata maaf bagi hati yang tersakiti seperti oase di padang gersang dan obat bagi hati yang goyah karena terpuruk dalam rasa bersalahnya.Jika kamu mau memperhatikan dan belajar”

 

Kudengarkan dengan khidmat perkataan Si Tegal sambil melihat kepulan asap rokoknya di langitlangit kamar, dan kali ini ia berhasil membentuk huruf “O”, walaupun saat kulirik ternyata asap itu muncul dari plastik bungkus rokok,bukun moncongnya.

 

Meski ia adalah Dewa Tidur dan pemalas, pendapat yang ia ucapkan memang selalu hangat dihati pendengar. Benar, aku harus meminta maaf kepada ketua HIMA-ku. Dengan posisi masih baringan,aku merogoh saku jeans dan mengambil ponselku,mengetik kata-kata maaf dan kalimat sesal

 

“minta maaf itu lebih afdol secara langsung, bukan lewat SMS yang ga punya ekspresi. Paling ga kalo ga bisa ketemu langsung, ya lewat telfon”

 

Aku berhenti mengetik SMS dan melotot melihat bary yang sedang duduk bersila, terbalik!!! Kepalanya menghadap kebawah diatas bantal, dengan punggug menempel  tembok, tangan disilangkan dan kaki bersila.

 

“ente ngapain sih?”

“semedi”

 

Jawabnya sambil merem. Ada-ada aja anak ini. akhirnya kucari “Lilis”,nama ketua HIMA-ku di phone book. Kutelfon cewek itu, tak diangkat, kupanggil lagi, tetap tak ada jawaban.

 

“ah..apa dia benar-benar marah dan sakit hati?”

 

Batinku sambil mendesah dan menatap langit-langit kamar lagi

 

“KAMU BAKAL MASUK NERAKA!!!”

“KAMPRET..!!!”

 

Jantungku mau copot saat menoleh karena Muka  Si Tegal ujug-ujug disebelah wajahku persis,berbisik seperti setan berbicara dalam film-film horror. Kapan ni anak selesai dari pose anehnya, tidak ada suara kresek sedikitpun, benar-benar orang aneh  yang sangat  luar biadab!!!

 

“hahahahahahahahaha, dia mungkin lagi tidur,sibuk, atau masak dris,ga usah mikir macem-macem. Nur anaknya lucu, jadi pasti ga masalah. ‘Allah selalu menunjukan jalan kepada hamba-Nya, jika  engkau lebih memperhatikan ’

“iyeh..paham ndul”

 

“Jika engkau lebih memperhatikan??”

 

Benar, jika aku mau lebih memperhatikan, jika aku mau lebih belajar

 

“Eh”

“apa dris?”

“Buku tebal hitam yang kutemukan diwarungnya mba Eni kemarin mana yah?”

“lha ente naruhnya dimana? Itu bukunya dukun yah?”

lambemu, kalo ngomong asal njeplak aja ente mah. Ga tau, tu bukunya dukun atau bukan aku ga peduli.  Kayaknya ada yang harus ku cek”

 

Aku bangkit menuju rak buku pada kamar kecil kami, kutelusuri buku-buku, bary ikut bangkit berdiri disebelahku.

 

“ente mau ngapain? mau bantu nyari buku itu?”
“ga”

“lha? Terus ngapain berdiri disebelahku?”

“mau nemenin”

“maksudnya? Nemenin???”

“iya, nemenin ente nyari buku”

“KITA MASIH DI KAMAR DODOLLLLLLLL,GA PERLU DITEMENIN!!!!”

 

Si Tegal ngacir keluar kamar. Aku melanjutkan mencari buku itu

 

“rak buku..ga ada. Lemari… ga ada.  Di tas…juga ga ada..huft..au ah”

 

Semua tempat sudah kucari, buku itu tidak ada. Akhirnya kuputuskan untuk berbaring di kasur saja.

 

“Tidur ajaaaaaaaaa..eh?”

 

Kelingking kaki kiriku merasakan dingin sesuatu, buku itu ternyata bersembunyi dibalik seprei kasur.  Aku membukanya dan membuka halaman yang terakhir kubaca

 

“Aku Ingin mengajakmu belajar”

 

 Kubalik lembar berikutnya, terkumpul puluhan kata dilembar itu, dan satu kata yang kufikir itulah judul dari catatan itu.

 

SIMPUL”

 

Pagi ini saya mengunjungi sebuah Rumah Sakit. Maaf, saya tidak dapat menyebutkan nama Rumah Sakit tersebut. Tapi ada satu hal yang ingin kuceritakan padamu.

 

“padamu?”

 

Aku celingukan sendiri dikamar. Hanya membaca satu kalimat dalam buku ini, membuatku benar-benar merasa ada seseorang dikamar ini, seseorang  yang memiliki buku ini. Entah cuma perasaanku atau kenapa. Aku hanya merasa ia seolah sedang berada disini.

 

***

 

setelah satu salam dalam empat rakaat dan duduk tenang bersandar ditiang mushola Rumah Sakit, dengan menyebut Asma Allah, saya akan berbagi sebuah hikmah yang baru saya temukan hari ini.

 

hari ini ada seorang teman, dan sebagai teman yang baik sayapun mengunjunginya. Setelah bertanya kabar dan mencoba menghibur ia dengan segala cerita yang saya miliki, sayapun pamit. Tapi, dalam perjalanan keluar rumah sakit, saat menyusuri koridor didepan kamar-kamar pasien langkah kaki ini terhenti.

 

Saya melihat seorang pria sedang menangis tersedu-sedu duduk didepan kamar pasien  ditemani seorang wanita yang kelihatannya wanita tersebut adalah istrinya, pria tersebut masih muda, umurnya 40an mungkin, dan busana yang mereka kenakan cukup mewah. Pastilah mereka orang kaya karena mereka juga duduk didepan kamar VIP.

Kemudian, saya melihat seorang pria paruh baya, berkulit coklat, berkumis dan berstelan hitam datang dari arah pintu rumah sakit menghampiri kedua orang itu, pria tersebut terlihat bercakap-cakap dengan sang istri, dan wanita tersebut seperti mengajak sang suami untuk masuk kedalam kamar, karena setelah sang istri berkata kepada sang suami  mereka pun masuk kedalam kamar pasien. Tinggal si pria berstelan hitam duduk membungkuk didepan kamar, menunggu. Saya menghampir dan duduk disebelahnya

 

“maaf bapak, bapak yang tadi kenapa?”

“adik siapa?”

“bukan siapa-siapa bapak, hanya saja, saya orang yang tidak bisa diam ketika melihat seseorang sedang terkena masalah”

“jika adek berharap bisa membantu tuan, adek terlambat”

“maksudnya terlambat? Siapa yang sakit bapak?”

“putra Tuan, Arif namanya, ia masih kelas satu SD”

“iya, terus?”

“tuan menyesal karena telah melakukan kesalahan terhadap putranya”

“maksudnya?”

 

Bapak tua itu memutar posisi duduknya menghadap ke arah saya, pertama ia hanya tertunduk,wajahnya terlihat melas . Saya melihat kedalam kamar yang pintunya memang tidak  tertutup. Asumsi saya benar rupanya, pria dan wanita tadi suami istri. Saya melihat seorang anak terbaring dikasur dengan selang infus menggelantung kearah si bocah kecil. Pria didalam itu cuma duduk menahan tangisnya sambil membelai kepala si bocah kecil.

 

“Saya sudah senam tahun menjadi supir keluarga ini . Waktu itu, saya, tuan, nyonya dan Arif melakukan perjalanan ke sebuah danau untuk mengisi liburan dengan memanggang barbeque. Dan tuan meminta  saya membawa mobil yang baru tuan beli satu bulan sebelumnya, ALPHARD.”

 

Bapak tersebut masih pada posisi duduknya, saya masih mendengarkannya dengan seksama, meskipun sedikit sirik karena Si Supir menceritakan kekayaan majikannya,tapi saya tetap mencoba meraba-raba kecelakaan apa yang menimpa Arif. Apakah dia tenggelam didanau, terjatuh saat bermain, atau apa?

 

“terus pak”

“kamipun sampai ditempat tujuan, mobil saya parkir didekat danau. Setelah itu saya membantu nyonya mengeluarkan peralatan dan bekal-bekal dari mobil. Setelah semua peralatan dan bekal sudah dikeluarkan. Saya, tuan dan nyonya menata semua yang kami bawa. Arif pun berlari-lari disekitar kami.”

 

Hmmm, mungkin benar, Arief jatuh

 

“terus pak? Ko Arif sampai masuk rumah sakit?”

“setelah semua tertata rapi, tuan memanggang daging, nyonya masih terlihat menata buah. Selang beberapa menit, arif yang sedari tadi tidak terlihat menghampiri tuan dan berkata?

 

“pah,papah….arif pinter gambar, gambar arif bagus pah”

 

“tuan tersenyum dan mengikuti kemana arif kecil menggandeng tangan tuan. Saat itu tuan meminta saya untuk menggantikannya memanggang daging. Tapi tiba-tiba?”

“tiba-tiba apa pak?”

“arif kecil terdengar menangis begitu histeris. Saya mematikan panggangan langsung menuju arah suara tersebut, nyonya juga berlari menuju arah tersebut. Kami melihat tuan sedang memukul kedua telapak tangan arif kecil dengan ranting pohon”

 

Pak Supir menghela nafas

 

“Nyonya berteriak meminta tuan berhenti, kemudian menghampiri Arif dan menggendong arif kecil untuk menenangkannya. Arif kesakitan karena tangannya sedikit mengeluarkan darah, nyonya marah ke tuan kenapa harus memukul anaknya. Jawab Tuan”

 

“ini anakmu membuat gara-gara. Dia harus diberi pelajaran biar tidak mengulaginya lagi. Lihat mah, mobil baru kita? Apa yang arif perbuat, ia mencorat-coret hampir seluruh bodi mobil kita dengan batu, mamah tahu kan mahalnya mobil tersebut, untuk mengganti semua itu tidak murah mah!!!”

 

“saat itu saya cuma menutup mulut make tangan melihat kondisi mobil baru tuan dek!! Seluruh bodi penuh dengan coretan Arif. Bisa dibayangkan harus menghabiskan berapa puluh juta untuk memperbaiki body mobil susah itu”

 

Saya semakin bingung, apa lagi ini. apa hubungannya dengan mobil baru itu, kenapa Si Supir itu malah menceritakan tentang mobil mewah milik tuannya lagi

 

“terus pak, hubungannya dengan putra majikan bapak apa?ko bisa sampai masuk rumah sakit?”

“saat kejadian itu, piknik kita langsung dibatalkan dek, semua barang-barang langsung di tata dan dimasukan kedalam mobil. Arif nangis sepanjang jalan karena sakit di telapak tangan. Tuan hanya diam, dan nyonya terus mencoba menenangkan arif”

 

Pak Supir menghela nafas sekali lagi sambil mengelus dadanya dengan telapak tangan

 

“Esoknya,setelah bapak berangkat ke kantor membawa mobil sendiri. saya melakukanaktivitas seperti biasanya, membersihkan mobil. Tiba-tiba nyonya terlihat menggendong Arief yag masih memakai piyamanya dek”

 

“ke rumah sakit pak cepet…badan Arief panas banget”

 

“saya langsung melajukan mobil ke rumah sakit dek. Waktu itu Arif terlihat sangat pucat, matanya masih merem dan  tangannya gemetaran terus sambil ngigau”

 

“sakit mah…sakit…tangan Adek sakit mah..sakit”

 

“Masya Allah, waktu diperjalanan saya ampe pengen nangis ngeliat kondisi arif dan nyonya yang nyoba nenangin Arif make suara paraunya gara-gara ikut nangis. seandainya bapak lebih bersabar atau make cara lain”

 

Mata pak supir berair, saya mengeluarkan sapu tangan dan menawarkannya pada bapak tersebut.

 

“sabar pak, arief pasti baik-baik saja, semua pasti ada hikmahnya”

 

Air mata pak supir kian deras, ia menutupi wajahnya dengan sapu tangan yang kuberi, sesenggukan mencoba mengatakan sesuatu

 

“Baek-baek aja? Hikmah? Adek ga tau yang dialami arief”

 

Entah kenapa, saat itu suara pak supir yang masih menangis dan sesenggukan membuat hati saya bergetar merasakan sedih luar biasa, seolah pak supir mengirim segala sakit sedihnya kedalam diri saya.

 

“setelah dua hari opname, dokter mendiagnosa bahwa ranting kayu yang digunakan bapak untuk memukul tangan  Arif mengandung virus entah apa namanya. Virus itu mebuat infeksi dan menjalar keseluruh telapak tangan, jari-jari sampai terakhir saya dengar dari suster sudah kepergelangan tangan dek. Dokter bilang tangan Arif kecil, yang masih SD itu, yang masih tidakmemiliki dosa itu… harus diamputasi siang ini sebelum menjalar lebih jauh”

 

Aku terhenyak, air mataku ikut menetes melihat keterangan pak supir yang masih menangis dan menceritakan hal itu dengan memandang kedua tangannya. Ia mengusap air matanya dan menunjukan ekspresi kecewa kepadaku

 

“lalu, bagaimana arief akan baik-baik saja dek? Hikmah apaan?!!! Arif masih kecil dek!!!Arif keil tidak lagi bisa menggambar dek”

“maaf pak..ma..af saya tidak tahu”

 

Nyonya keluar tergesa-gesa dari dalam

 

“pak yanto, ikut ibu keruang perawat sekarang, badan arif pak…badan arief semakin panas dan gemetaran pak”

Si Nyonya berjalan cepat menuju ruang perawat diikuti Pak Supir. Saya memandang mereka semakin menjauh, berdiri dan berjalan didepan pintu Arief kecil. Saya berhenti didepan pintu itu persis, melihat Ayah Arif menangis tersedu-sedu dan suara Arief kecil, membuat jantung dan hati saya benar-benar remuk, suara Arief kecil menyayat perasaan saya waktu itu. Arief kecil merintih kepada ayahnya

 

“ma…maaf…maafin Arief Pah..Pahh.. maafin Arief…Arief janji ga akan nakal lagi…Arief janji ga akan gambar apa-apa lagi..Arief janji pah, maafin Arief pah… Arief janji”

 

***

Penah merasakan dan memikirkan kah bahwa dalam kehidupan telah mengajarkan kesetiaan?. Banyak orang yang telah hidup berpuluh tahun dan mereka baru mengerti bahwa kehidupan ini penuh arti. Hidup di dunia tak akan terlepas dari dua perkara, seperti hidup dan mati, baik dan buruk, sehat dan sakit, dan sebagainya. Kesemuanya itu merupakan “pasangan setia” yang selalu saling mengingatkan betapa pentingnya satu sama lain.

Arti “Pasangan Setia” kami mencoba menguak sedikit sebagai berikut:

  1. Nikmatnya hidup mengingatkan ada kenikmatan sesudah kematian yang masih banyak kenikmatan itu dalam Syurga. sedangkan kematian sendiri mengajarkan pentingnya hidup untuk digunakan mencari bekal akhirat dengan banyak melakukan kebaikan baik hubungan manusia dengan Allah, manusia dengan manusia dan maupun manusia dengan alam
  2. Buruk membantu mengajarkan pentingnya sifat baik dan sifat baik sendiri pasangan dari sifat buruk, namun bukan berarti kebaikan dan keburukan bisa bercampur bersama selayaknya manusia (laki-laki dan wanita)
  3. Sakit mengingatkan nikmatnya sehat yang telah diberikan oleh Allah SWT agar kesehatan itu bisa dipergunakan sebagai pendukung melakukan kebaikan. sedangkan Sehat sendiri mengingatkan pentingnya memanfaatkan kesempatan diberikan kesehatan karena akan ada kondisi sakit.

Penjebaran dua hal yang selalu beroasangan ini merupakan “pasangan setia” yang selalu mengingatkan satu dengan yang lain. untuk contoh-contoh selain yang telah diuraikan di atas bisa dikembangkan sendiri. Mari kita belajar mentafakuri semua yang telah diciptakan oleh Allah SWT dan kita yakin smua itu ada hikmahnya.

 

INFO PKD MALANG

PERSYARATAN PESERTA PKD BARAWIJAYA MALANG
1. Delegasi terdiri dari 1 (satu) orang
2. Mengisi Formulir Pendaftaran
3. Telah Mengikuti MAPABA, dan dibuktikan dengan Sertifikat dan atau Surat Pemberitahuan dari lembaga penyelenggara
4. Mendapatkan Surat Rekomendasi dan atau delagasi dari lembaga terkait
5. Bersedia mengumpulkan essai sejumlah materi pelatihan
6. Pas Photo 3 x 4 berwarna sebanyak 3 lembar
7. Bersedia membuat surat pernyataan kesediaan mentaati semua peraturan
8. Mampu membayar kontribusi pelatihan sebesar Rp. 75.000,-
9. Bersedia hadir di Malang pada tanggal 3 Mei 2012
Catatan Kecil:
a. Berkas pada point 2-7 diserahkan dan dikrimkan ke Sekretariatan PMII Komisariat Brawijaya Malang Jl. Gajayana gg II no.666 Malang atau Via email: pmii.brawijaya@yahoo.com paling lambat (H-3) 1 Mei 2012. Dan apabila ada berkas yang masuk melebihi tanggal diatas, maka tidak akan diproses dan diterima oleh panitia.
b. Kontribusi Peserta bisa langsung dikirmkan melalui rekening cabang: BRI 0051-01090742-50-2 a.n PMII KOMISARIAT BRAWIJAYA dan atau dibayar langsung kepada Panitia Penyelenggara pada tanggal (H-3) 1 Mei 2012
c. Keterangan lebih lanjut bisa langsung menghubungi:
M. Abdullah Syukri (085755115501) Mi’rojul Huda (085731199119, 087754191253)

Siapa yang tidak kenal negara Indonesia yang tanahnya subur makmur, gemah ripah lohjinawi. Namun potensi besar yang dimiliki negara kita Indonesia tidak bisa dikelola secara oktimal. Hal ini dikarenakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang relatif rendah, sehingga potensi yang dimiliki “dipolitiki” dab “dieksploitasi” oleh negara lain.

Gaya berfikir  yang masih pragmatis yakni tidak ingin pusing mengurusi ujian lagi maka mereka lebih condong “tutup buku buka terob”.

setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan,,,
Setiap keputusan pasti akan dipertanggungjawabkan,,,
Setiap kejadian pasti akan menjadi pelajaran,,,

Kehilangan mengajarkan arti memiliki,,,
Kekecewaan mengajarkan arti kehati-hatian,,,
Kesepian mengajarkan arti kebersamaan,,,
Jadikan Hati dan akal fikiran media petimbangan keputusan.

Hari yang terpenting bagi para remaja di belahan dunia manapun, tidak  terkecuali di Indonesia pada bulan Pebruari ini perayaan hari Valentine, Sebab hari itu banyak dipercaya orang sebagai hari yang tepat untuk mengungkapkan rasa kasih sayang. Sebuah hari di mana orang-orang di barat sana menjadikannya sebagai fokus untuk mengungkapkan rasa kasih sayang.

Di Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim, para remajanya ikut meramaikan hari kasih sayang itu, hal ini dikarenakan era globalisasi yang mempermudah keluar masuknya budaya dan kekurang fahaman remaja Indonesia terhadap dapak positif dan negative pada budaya kita yang telah ada, seharusnya kita bisa menyaring budaya barat yang cocok dengan budaya kita yang ketimur-timuran, jikalau memeng cocok dengan moral budaya yang telah ada maka kita bisa menirunya dan sebaliknya ketika budaya luar itu tidak cocok dengan norma budaya kita maka kita wajib menghindari tiru meniru budaya barat terebut. Sangat disayangkannya angapan remaja kita bilamana menirukan budaya dari barat dalam semua hal dianggapnya modern hal ini yang menjadi salah kaprah. Dampak positif  era globalisasi seperti perubahan pola fikir dan sikap. Globalisasi dan modernisasi yang awalnya berkembang di barat mampu merubah pola fikir dan masyarakat Indonesia yang semula berfikir  irrasional menjadi rasional, namun dampak negative dari  masuknya beragam gaya hidup barat ke Indonesia gaya hidup seks bebas yang saat-saat ini sangat diminati para remaja apa lagi menjelang hari valentine.  Perayaan hari valentine dimulai meramaikan dengan bertukar bingkisan valentine, berpesta semarak warna pink, ucapan rasa kasih sayang, ungkapan cinta dengan berbagai ekspresinya, menyemarakkan suasan valentine setiap tahunnya bahkan seks bebas pun dilakukannya dengan berkedok mencurhkan kasih sayang padahal sebenarnya adalah mencurahkan nafsu biologisnya karena dianggap hari valentine itu hari kebabasan mengekspresikan rasa cinta dan sayangnya kepada pacarnya .

Gaya hidup para anak remaja yang berada dalam kota Metropolitan,mereka cenderung bergaya hidup dengan mengikuti mode masa kini. Tentu saja, mode yang mereka tiru adalah mode dari orang barat. Salah satu contoh gaya hidup para remaja yang mengikuti mode orang barat dalam kehidupan sehari-hari adalah masalah ” Berpakaian “. Karena, sebagian remaja Indonesia khususnya, dalam berpakaian selalu mengkuti mode yang berlaku. Bahkan yang lebih menyedihkan, di stasiun-stasiun tv banyak ditampilkan contoh gaya hidup dalam berpakaian para remaja yang mengikuti mode orang barat. Otomatis bukan hanya remaja Metropolitan saja yang mengikuti mode tersebut, tetapi juga orang-orang yang berada dalam perkampungan atau pedalaman. Sebagian besar remaja Indonesia belum dapat memfilter budaya tersebut dengan baik. So, pengaruh negatiflah yang timbul dari dalam diri remaja itu sendiri.

Namun, sebagian remaja Indonesia kemudian meniru atau mengikuti mode orang barat tanpa menyaringnya secara baik dan tepat. Dan mungkin itu akan berakibat buruk bagi generasi penerus kita nanti. Contoh berikutnya, gaya hidup sebagian remaja yang mengikuti budaya orang barat adalah mengkonsumsi minum – minuman keras, narkoba, dan barang haram sejenislainnya. Mereka beranggapan bahwa jika tidak mengkonsumsi barang-barang tersebut, maka ia akan dinilai sebagai masyarakat yang ketinggalan zaman atau tidak gaul. Padahal jika kita teliti, minum – minuman keras dan narkoba dapat merusak kesehatan dan mental orang yang mengkonsumsinya. Minum – minuman keras dan narkoba adalah salah satu contoh dari sekian banyak contoh gaya hidup orang barat yang sangat berbahaya dan sangat berpengaruh bagi maju mundurnya suatu bangsa. Dan yang lebih anehnya, budaya tersebut telah diikuti oleh sebagian remaja Indonesia. Untuk itu, di zaman yang serba modern ini orang tua yang mempunyai anak remaja harus memantau pergaulan, teman-teman, dan gaya hidup yang mereka terapkan. Dan untuk para remaja harus berhati -hati dalam menerima budaya dari luar dan harus bisa memilah budaya dari luar secara baik dan tepat

Sahabat-sahabat kita para pemuda-pemudi Indonesia ingatlah di pundak kita nantinya Indonesia kedepan kita bawa. Tergantung generasi sekarang yang nantinaya mau di bawa kemana tanah air tercinta ini. Sahabat-sahabat ku  sebenarnya ada apa dengan valentine’s day?

 

Tahu kah para remaja muslim Indonesia, Perayaan Valentine’s Day adalah bukan budaya Islam?

Sejarahnya berasal ari upacara ritual agama Romawi kuno. Adalah Paus Gelasius I pada tahun 496 yang memasukkan upacara ritual Romawi kuno ke dalam agama Nasrani, sehingga sejak itu secara resmi agama Nasrani memiliki hari raya baru yang bernama Valentine’s Day.

The Encyclopedia Britania, vol. 12, sub judul: Chistianity, menuliskan penjelasan sebagai berikut: “Agar lebih mendekatkan lagi kepada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Encylopedia 1998).

Cukupkah  kita bersama  orang yang kita sayangi diluapkan dalam hari kasih sayang cuman satu hari itu?

            Semua orang pasti akan menjawab tidak cukup kita hanya ingin bersama satu hari. Ketika kita ada rasa suka kepada lain jenis pasti kita berkeinginan selalu bisa bertemu setiap hari. Dan ketika tidak bertemu satu hari ada rasa yang berbeda, yakni akan tumbuh rasa kerinduan.

Jadi hari untuk mencurahkan rasa kasih sayang dengan melindungi, tidak menyakiti orang kita sayangi kapan pun seumur hidup .

 Image

       By : AU

KERINDUAN DIPERANTAUAN

Ibu,,,

Maaf kanlah anakmu yang sudah beranjak dewasa ini

Yang belum  bisa membalas kebaikanmu selama ini,,,

Kasih sayang mu sejak mengandung aku,

Perjuangan mu tuk melahirkan aku

dan membesarkan aku,,,

Rasa sakit dan uraian keringat bercampur darah yang tak pernah engkau rasakan

Berjuta harta yang tak pernah engkau perhitungkan

Sungguh agung cinta kasih sayangmu, ibu,,,,

Ibu,,,

Kini aku baru bisa mengerti

dan merasakan sayang cinta kasih mu

setelah ku jauh darimu,,,

Kini,,,

Hari ku sepi tanpa sapamu

Ceria ku mati tanpa tawamu

Bahagia ku pun gak akan sempurna tanpa senyum mu

Langkah ku juga rapuh tanpa semangat mu, Ibu,,,

Ibu,,,

Kini ku rindu sapamu

Aku rindu tawamu

Tentang senyum mu, juga semangat mu

Di saat semua mampu tenangkan aku

By : A.U

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.